Aug 1, 2011

komen menarik

bismilLahirRahmanirRahim

sekadar berkongsi
artikel boleh dibaca disini (copy paste dari link asal dari facebook)
jika sebelum ini artikelnya, kali ini
aku letakkan komen2 yang ilmiah buat perkongsian
moga bermanfaat, insyaAllah:

(1) @ALL: inilah kelemahan dakwah lewat tulisan, pembaca terkadang menafsirkan maksud tulisan dengan pandanganya sendiri. padahal tidak pernah ada yang bilang "WANITA itu HARAM" juga tidak pernah ada yang mengenarilisir kalau CHATING itu HARAM... atau bilang kalau MEMBERI KOMENTAR STATUS fb orag lain juga HARAM... silaturahmi kudu jalan terus, baik dengan ihwan atau pun akhawat... tidak perlu dibenturkan... tapi buat yang mau berhati-hati dan menjaga hati silahkan.. buat yang merasa KUAT menahan diri silahkan juga... CHATING MUBAH, berteman dengan akhawat jg mubah...

>> INGAT: SETAN itu AMAT SANGAT LICIK. (bisa jd saya sekarang sedang terperangkap) ASTAGHFIRULLAHALADZIM...

=============================================================
(2) ASSALAMU ALAIKUM WR,WB. Dalam bahasa arab terdapat kaidah yang menyatakan bahwa seruan bagi kaum laki-laki sekaligus mencakup seruan bagi laki-laki dan perempuan. Sedangkan seruan bagi perempuan, tidak mencakup bagi laki-laki; ia terbatas h...anya untuk kaum wanita saja. Atas dasar tersebut dapat dipahami bahwa seruan-seruan Allah SWT seperti1): "Wahai, orang-orang yang beriman"; "Wahai manusia"; "Janganlah kalian membunuh jiwa"; "Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang-orang yang menyeru kepada Allah [berdakwah kepada Islam] dan melakukan amal shaleh [melaksanakan hukum-hukum Islam]"; "Dan taatilah Allah, taatilah Rasul dan para pemimpin (pejabat yang menerapkan Islam) dari kalangan kamu"; Nah ini juga bearti hubungan laki2 dan perempuan itu ada sepanjang konteks berada dalam hukum syara' dan hal ini pulah akan terwujud ketika betul2 sistem islam yg mengatur, namun pada tataran sekarang ini kita tidak bisa menjamin karena kehidupan yang ada semakin jauh dari Al-quran dan sunnah baik dari tataran kuantitas maupun qualitatif.
==============================================================
(3) bismillah...
perkataan Sahal bin Abdillah di kitab
حلية الأولياء و طبقات الأصفياء jilid IV, halaman 279.
"telitilah bagaimana kondisi KAMU di dalam akhlak Islam, sehingga KAMU selamat!!!"
...
Hanya saja, ingin ingatkan bahwa dulu salaf memberi nasehat, "BARANGSIAPA YANG DIRINYA MERASA AMAN DARI FITNAH, DIRINYALAH YANG TERKENA FITNAH". Silakan cek perkataan ini dalam kitab ذم الهوى karya ابن الجوزي.

AKHLAK SESEORANG BISA DIKETAHUI DARI TEMAN FACEBOOKNYA. Itu bukan hadits, hanya nasehat karena SUDAH BANYAK MUSIBAH YANG MUNCUL DARI FACEBOOK, ini FAKTA.

Adapun dakwah di facebook antara ikhwan-akhwat, ana kutipkan pernyataan syaikh al-albani terhadap metode dakwah wanita:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ

“ Tetaplah kalian di rumah-rumah kalian! Kalian tidak punya urusan dalam berdakwah. Saya mengingkari (tidak menyetujui) penggunaan kata dakwah di kalangan kawula muda, bahwa mereka termasuk yang berhak berdakwah. Seolah-olah kata “dakwah” sebuah metode/ trend masa kini. Dimana setiap orang yang baru saja mengetahui sedikit ilmu agama, dengan serta merta menjadi seorang da’i. Urusan ini tidak sampai di situ saja, bahkan istilah dakwah ini menyentuh pula para muda mudi dan para ibu rumah tangga. Akibatnya, dalam banyak kesempatan merekapun meninggalkan kewajiban dan tanggung jawab rumah tangga, suami, dan anak-anak mereka, karena mengemban sesuatu yang bukan tugas mereka, yaitu berdakwah. Pada dasarnya seorang wanita harus berdiam di rumah. Tidak disyari’atkan keluar dari rumahnya kecuali untuk suatu kepentingan yang sangat mendesak. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam :
وبيوتهن خيرلهن من الصلاة في المساجد

“Dan di rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka daripada sholat di masjid-masjid”
Sementara kita menyaksikan di zaman ini sebuah fenomena yang merebak di kalangan wanita, mereka memperbanyak keluar ke masjid-masjid untuk melaksanakan sholat berjama’ah. Apalagi di hari Jum’at. Padahal rumah mereka lebih baik bagi mereka. Terkecuali ada sebuah masjid di sana terdapat seorang imam yang ‘alim yang mengajarkan sebagian ilmu agama kepada para jama’ah, lalu seorang wanita keluar untuk sholat di masjid tersebut, dan mendengar dengan seksama ilmu yang disampaikannya, maka yang demikian itu adalah tidak mengapa.

Adapun seorang wanita yang menyibukkan dirinya dengan berdakwah (maka kami katakan),

hendaklah ia tinggal di rumahnya dan membaca kitab-kitab yang telah disiapkan oleh suami, saudara, atau sanak keluarganya. Kemudian tidak mengapa jika suatu hari ia mengajak dan mengundang para wanita untuk hadir dirumahnya atau ia yang keluar, ke rumah salah seorang di antara mereka. Yang demikian itu lebih baik daripada keluarnya sekelompok wanita kepadanya. Adapun keluarnya seorang wanita atau melakukan perjalanan yang jauh yang terkadang tanpa ditemani oleh mahromnya dengan berdalihkan “ dakwah”, ini adalah salah satu dari bid’ah-bid’ah zaman ini. Masalah ini tidak hanya khusus bagi wanita saja, bahkan juga bagi para pemuda yang menjadikan hobby mereka berbicara dalam masalah dakwah sementara ilmu mereka masih sangat dangkal.(Al-Asholah 18, hal : 74-75)

(Lihat dalam Biografi Syaikh aL-Albani, Pustaka Imam Syafi’i)

 ------------------------------------------------------------------------------------------
ما تركت بعدي فتنة أضر على الرجال من النساء (4)
”Aku tidak meninggalkan sepeninggalku suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki ketimbang wanita”
[ H.R Bukhari dan Muslim ]

Istri Nabi, Aisyah, berkata,
...
لو أن رسول الله صلى الله عليه وسلم رأى ما أحدث النساء اليوم لنهاهن عن الخروج أو حرم عليهن الخروج

“Seandainya Rasulullah melihat apa yang diperbuat kaum wanita pada hari ini, niscaya beliau melarang mereka keluar rumah atau mengharamkan mereka keluar rumah” [1]

[1] Terdapat riwayat dari Aisyah yang mirip dengan atsar di atas, yaitu dalam shahih Muslim (cetakan دار إحياء التراث العربي - بيروت Juz I, hal. 445, hadits nomor 144):

عن عمرة بنت عبدالرحمن أنها سمعت عائشة زوج النبي صلى الله عليه وسلم تقول

: لو أن رسول الله صلى الله عليه وسلم رأى ما أحدث النساء لمنعهن المسجد كما منعت نساء بني إسرائيل قال فقلت لعمرة أنساء بني إسرائيل منعن المسجد ؟ قالت نعم

lihat pula lafadz ini dalam :

1. Musnad Ahmad bin Hambal (cetakan مؤسسة قرطبة - القاهرة ) Juz VI, hal. 193, hadits nomor 25.651

2. Musnad Ishaq bin Rahwiyah (cetakan cetakan مكتبة الإيمان - المدينة المنورة), Juz II, hal. 148, hadits nomor 639; dan Juz II, hal. 426, hadits nomor 897

-------------------------------------------------------------------------------------------------
(5) Umar bin 'Abdul Aziz pernah berpesan kepada Maimun bin Mahran, "Aku berpesan kepadamu satu pesan yang harus Kau Ingat! Jangan sekali-kali Engkau berduaan dengan wanita yang bukan mahram, WALAUPUN BATINMU BERKATA BAHWA ENGKAU BERMAKSUD MENGA...JARKAN AL-QUR'AN
[ حلية الأولياء وطبقات الأصفياء, V/272 ]

Maka tidak ada alasan apapun untuk tidak menghapus FB ikhwan dari FB kita...
Fitnah itu tidak akan tahu kapan datangnya dan dalam bentuk apa...

a. Ingatlah kemuliaan yang didapat jika kita bisa mengalahkan hawa nafsu. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,

" ليس الشديد لمن غلب الناس و لكن الشديد من غلب نفسه"...

/Orang yang kuat bukanlah orang yang dapat mengalahkan orang lain, tetapi orang yang kuat adalah orang yang dapat mengalahkan hawa nafsunya/

b. Melawan hawa nafsu, membutuhkan kesabaran. Namun, ingatlah keutamaan yang diperoleh jika kita mampu bertahan di atasnya. Allah berfirman yang artinya, "Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas." (Az-Zumar:10)

c. Perbanyaklah memikirkan akhirat. Harist bin Asad berkata, "Bencana hamba ialah menghentikan hati dari berpikir untuk akhirat. Ketika itulah, kelalaian terjadi dalam hati."

d. Ingatlah pula bahwa Al-Jazaa'u min jinsi al-'amal /balasan itu sesuai dengan amal perbuatan/. Maka, jika Anda tidak ingin mendapat pendamping hidup yang suka pacaran, hendaknya Anda juga tidak pacaran. Rata-rata orang yang suka pacaran itu suka gonta-ganti pasangan. Inilah benih perselingkuhan.

e. Jauhi teman-teman yang buruk, khususnya pacar Anda itu. kemudian, banyaklah bergaul dengan kawan-kawan shalih yang bisa saling nasehat menasehati.

f. Banyaklah menundukkan pandangan dari lawan jenis. Dzun-Nun mengatakan, "Pandangan sekilas menyebabkan kerugian. Mula-mula kasihan, dan terakhir kehancuran. Barangsiapa mengikuti pandangannya, ia mengikuti kebinasaannya."

g. Ingatlah aib-aib pacar Anda itu, atau setiap wanita non mahram yang Anda kenal. Shahabat Nabi, Abdullah bin Mas'ud berkata, "Jika salah seorang dari kalian mengagumi seorang wanita, ingatlah kebusukannya."

h. Dan yang paling penting dari semua itu adalah banyaklah berdoa kepada Allah karena Doa adalah senjatanya orang yang beriman."Idza sa-alta fas-alillah, wa idzas-ta'anta, fasta'in billah. "Jika meminta, mintalah kepada Allah. Jika Engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah". Maka, mohonlah kepada kepada Allah agar diri kita dijauhkan dari segala bentuk kemaksiatan, seperti pacaran yang rusak ini.

Wallahu a'lam.

--------------------------------------------------------------------------------------------------
(6) Bukankan sesungguhnya orang yang paling bahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah...

Dari al Miqdad bin al Aswad radhiyallahu anhu, beliau berkata : Demi Allah! Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda : "S...esungguhnya orang yang paling berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah.Sesungguhnya orang yang paling berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah.Sesungguhnya orang yang paling berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah.Dan barangsiapa yang mendapat ujian lalu bersabar, maka alngkah bagusnya".

Takhrij Hadits
Hadits ini diriwayatkan Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, kitab al Fitan wal Malahim, Bab Fi an-Nahyi 'an as-Sa'yi fil Fitnah, no. 4263 (4/460). Hadits ini dishahihkan al-Albani dalam al Mashabih no. 5405, juga dalam Silsilah Ahadits ash-Shahihah no. 975 dan Shahih Sunan Abu Dawud no. 4263. Syaikh al-Albani berkata : "Hadits ini diriwayatkan Abu Dawud (4263) dari al Laits bin Sa'ad dan Abul Qasim al Hana'i dalam ats-Tsalits minal-Fawaa'id (1/82) dari 'Abdullah bin Shalih. Kemudian Syaikh menyatakan : "Ini sanad yang shahih sesuai syarat Muslim (Silsilah al Ahadits ash-Shahihah (2/703). Wallahu a'lam.
-----------------------------------------------------------------------------------------------
(7) nasihat diatas ana dapatkan dr si penulis sendiri Akh Abu Muhammad Al-'Ashri dlm blognya & fbnya ttg note ini & beberapa teman akhwat yg menanyakan langsung pd penulis via blognya & diskusi ana dgn tmn2 akhwat mengenai hal ini...

yg ditekan...kah disini adalah bermudah2annya komunikasi dgn ikhwan & akhwat ajnabi/ajnabiyah. bukankah fb itu sangat terbuka sekali?

saudara/i-ku, jadikanlah nasihat bagiku dan bagi kalian ini sebagai cambuk untuk terus memperbaiki diri & mencontoh akhlak dari para salafush shalih...smga qt ttp istiqomah...Allahumma Amin

wallahu ta'ala a'lam...
al afwu wa minkum wa barakallahu fiikum

===============================================================
(7) Subhanallah...
@Ivan Fauzi: Betul sih menikah akan mengurangi... tapi jujur saja ana buat Halaman ini karena ana melihat ihwan yang sudah menikah masih doyan chating ma akhawat gak jelas... bagai mana pendapat ust?

@Adriansah Bahrun: Subhanallah... minta tolong bantu menyebarkan yaa.

@ Pandji Abahe Dzaka: Subhanallah... silahkan di sebarkan... syukron.

================================================================
(8) asalamualaikum..
untuk saudara seiman saya disana yang membuat artikel ini...
sedikit ana memberikan pandangan terhadap artikel ini... saran yang diberikan demikianbaiknya,, namun marilah melihat dari sudut pandang muamallah , tidaklah harus ...memandang dengan membatasi sudut pandang yang satu saja,,, ikhwan dan akhwat dalam kehidupan keseharianya tidak dapat dipungkiri akan berinteraksi..

dan interaksi tersebut hendakna tidak ditanggapi hanya dari sudut pandang negativ saja..
semua kembali pada insan tersebut ikhwah..

ana yakin makna yang hendak di capai dalam arikel diatas, bukanlah pembatasan yang mengekang yang justru membuat keterbatasan dalam interaksi yang baik dengan kaidah yang baik .. semuanya ditulis dengan niatan karena allah dan mengajak kita semua untuk saling menjaga hati..

tiada manusia yang sempurna.. dan janganlah saling mengambil perbedaan dari perbedaan.. kecuali kebaikan dari persamaan yang tersirat dalam perbedaan tersebut...

afwan minkum..


p/s:  commentator selepas = dan sebelum = adalah orang berbeza
       commentator selepas -- dan sebelum -- adalah orang yang sama
       comments no (7) dan no (1) adalah dari orang yang sama


segala salah silap sila tegur,
walLahu a'lam

chatting?

 bismilLahirRahmanirRahim
artikel ini dipetik dari sini (sila klik)

Akhii…

Bila kita sempatkan diri kita untuk membaca sejarah hidup para pendahulu kita yang shalih mulai dari masa shahabat hingga para ulama salafi, niscaya kita dapati akhlak, adab, dan ketegasan mereka yang menakjubkan. ‘Kan kita jumpai pula indahnya penjagaan diri mereka dari aib dan maksiat. Merekalah orang-orang yang paling bersegera menjauhi maksiat. Bahkan, sangat menjauh dari sarana dan sebab-sebab yang mendorong kepada perbuatan maksiat.

Bila kita membaca kehidupan anak-anak atau para remaja di masa salaf, niscaya kita dapati mereka adalah darah-darah muda yang tampak kecintaannya terhadap din, semangatnya dalam membela al-haq, dan sikap bencinya kepada perbuatan dosa. Maka, kita dapati mereka di usia muda, sudah memiliki hafalan Al-Qur’an, semangat yang besar untuk berjihad, dan kecerdasan yang menakjubkan.

Sebaliknya, sungguh sangat sedih hati ini. Tidakkah kita merasakan bahwa kaum muslimin saat ini terpuruk, terhina dan tidak berdaya di hadapan orang-orang kafir, padahal jumlah kita banyak? Lihatlah diri kita! Bandingkan diri kita dengan para pemuda di masa salaf! Akhi… saya, antum, kita semua pernah bermasiat. Namun, sampai kapan kita bermaksiat kepada-Nya?

Saya tidak mengharamkan antum berdakwah kepada wanita, karena Nabi pun berdakwah kepada wanita!
Saya pun tidak mengharamkan muslim atau muslimah memanfaatkan facebook, karena untuk mengharamkan sesuatu membutuhkan dalil.
Siapa yang melarangmu mendakwahi mereka akhi…?

Bahkan, dulu kumasih berprasangka baik padamu bahwa kau ‘kan dakwahi teman-teman lamamu, termasuk para wanita itu…
Namun, yang terjadi adalah sebagaimana yang kau tahu sendiri…
Tak perlu kutulis…
Karena kau pasti tahu sendiri…

Catat! Tak kubuka friendlist FB-mu karena aku tak mencari-cari aibmu…
Namun, tidakkah kau sadar bahwa FB itu sangat-sangat terbuka?
Hingga dirimu sendiri yang tak sadari…
Bahwa tingkah lakumu pada para akhwat itu,
Dapat dilihat kawan-kawanmu yang lain, termasuk diriku…
Yang inilah sebab yang mendorongku menorehkan pena dalam lembaran-lembaran ini…
Duh….
Betapa sering Allah menutupi aib seorang hamba…
Namun dirinyalah sendiri yang membongkar aibnya…


Ya Allah…
Kuadukan kesedihan hatiku ini hanya kepadaMu…
Hanya kepadaMulah kuserahkan hatiku…
Mudah-mudahan Kau mendengar doaku…
Dan Kau maafkan kesalahan kawan-kawanku itu…
Di samping ku terus berhadap agar Kau pun maafkan diriku…


Akhi…
Pernahkah kau baca firman Allah yang menyinggung “mata yang berkhianat”?
Baiklah, kita periksa kembali. Allah berfirman dalam surat Al-Mukmin: 19

يعلم خاينة الأعين

“Dia mengetahui (pandangan) mata yang berkhianat”

Nah, apakah yang dimaksud dengan mata yang berkhianat itu? Akhi, sesungguhnya Al-Qur’an itu turun di masa para shahabat. Shahabat Nabilah yang paling mengerti makna Al-Qur’an karena mereka hidup bersama Nabi, langsung mendapat bimbingan dan pengarahan Nabi. Maka, kini kan kubawakan tafsir Ibnu Abbas, sebagai hadiahku untukmu.

Akhi ingat kan siapa Ibnu Abbas? Na’am! Dia adalah ahli tafsir dari kalangan shahabat Nabi. Kudapatkan tafsir ini dari Abul Faraj Al-Jauzy (Ibnul Jauzy), dalam kitab beliau,ذم الهوى. Ibnu Abbas berkata


الرجل يكون في القوم فتمر بهم المرأة فيريهم أنه يغض بصره عنها فإن رأى منهم غفلة نظر إليها فإن خاف أن يفطنوا إليه غض بصره وقد اطلع الله عز وجل من قلبه أنه يود أنه نظر إلى عورتها

“Seseorang berada di tengah banyak orang lalu seorang wanita melintasi mereka. Maka, ia memperlihatkan kepada kawan-kawannya bahwa MENAHAN PANDANGANNYA DARI WANITA TERSEBUT. Jika ia melihat mereka lengah, ia pandangi wanita tersebut. Dan jika ia khawatir kawan-kawannya memergokinya, ia menahan pandangannya. Padahal, Allah ‘azza wa jalla mengetahui isi hatinya bahwa ia ingin melihat aurat wanita tersebut .”

.

Camkan itu akhi…!
Kita sudah lama mengenal Islam…
Kita sudah lama ngaji…
Apakah seseorang yang sudah lama ngaji pantas seperti itu?
Inginkah akhi dikenal manusia sebagai pemuda yang shalih…
Yang senantisa menundukkan pandangan di alam nyata…
Namun kau berkhianat dengan matamu…
Kau tipu kawan-kawanmu yang berprasangka baik kepadamu…
Tidakkah ‘kau malu kepada Allah…
Yang melihatmu di kala tiada orang lain di sisimu selain laptopmu?
Yang dengannya kau bisa pandangi wanita sesuka hatimu…?
Yang dengannya kau bisa saling sapa dengannya mereka sepuasmu..?
Yang dengannya kau bisa berbincang-bincang dengannya sekehendakmu…?


Akhi…
Janganlah ‘kau marah padaku…
Marahlah pada Ibnu Abbas jika kau mau…
Karena dialah yang menjelaskan arti mata khianat kepadaku…


Akhi…
Jika kau malu bermaksiat di hadapan kawan-kawanmu, apalagi di hadapan para wanita itu…
Ketahuilah bahwa

قلة حيائك ممن على اليمين وعلى الشمال وأنت على الذنب أعظم من الذنب

“Sedikitnya rasa malumu terhadap siapa yang berada di sebelah kanan dan sebelah kirimu, saat kamu melakukan dosa, itu lebih besar daripada dosa itu sendiri!”

Eits… sebentar akhi, jangan marah dulu. Itu di atas bukan ucapan saya, tetapi ucapan Ibnu Abbas! Silakan lihat di ذم الهوى halaman 181.


Akhi…
Apakah engkau masih sempat-sempanya tertawa, melempar senyum pada akhwat itu, meski sebatas:



* simbol ^__^

* atau kata-kata: xii…xiii..xii..,

* atau: hiks..hiks…hiks…,

* atau: hiii..hi..hi..,

* atau: ha..ha..ha…,

* atau: so sweet ukhti…,


atau sejenisnya yang kau tulis di wall-wall atau ruang komentar Facebook para akhwat itu!

Maka, Ketahuilah bahwa

وضحكك وأنت لا تدري ما الله صانع بك أعظم من الذنب

“Tertawa saat kamu tidak tahu apa yang akan Allah perbuat terhadapmu, ITU LEBIH BESAR DARIPADA DOSA ITU SENDIRI!”

dan juga

وفرحك بالذنب إذا ظفرت به أعظم من الذنب

“Kegembiraanmu dengan dosa ketika kamu melakukannya, ITU LEBIH BESAR DARIPADA DOSA ITU SENDIRI”

Afwan akhi jika antum mulai emosi (semoga tidak). Jangan lihat saya karena dua kalimat di atas bukan ucapan saya, tetapi ucapan Ibnu Abbas pula, afwan.


Akhi…
Kalau antum masih bermudah-mudahan dalam berfacebook ria dengan para wanita itu,
Ketahuilah bahwa antum adalah pengecut!
Karena kalau kau berani, kau kan temui ayahnya dan kau pinang dirinya…
Kalaupun hartamu tidak mendorongmu untuk itu…
Kau tetap pengecut karena kau hanya “tunjukkan perhatian”…
Sementara kau tidak berani “maju melangkah”…
Jika kau mampu tahan pandanganmu dari “bunga-bunga” facebook itu, barulah kau ini seorang pemberani!

Sabar dulu akhi, jangan marah dulu. Siapa saya? Saya ini masih sama-sama belajar seperti antum, atau malah saya masih tergolong anak “baru ngaji”. Namun, mohon jikalau akhi menolak ucapan saya, perhatikanlah untaian kata yang dikutip Ibnul Jauzi di bawah ini..

ليس الشجاع الذي يحمي مطيته … يوم النزال ونار الحرب تشتعل

لكن فتى غض طرفا أو ثنى بصرا … عن الحرام فذاك الفارس البطل



Pemberani bukanlah orang yang melindungi tunggangannya

Pada saat peperangan, ketika api berkobar

Akan tetapi, pemuda yang menahan padangannya dari yang diharamkan…

Itulah prajurit yang ksatria!



Akhi…
Sekali lagi, kalau kau tersinggung dengan ucapanku. Mohon janganlah kau lihat siapa saya, kawanmu ini. Saya tidak ada apa-apanya. Namun, sekali lagi, kumohon lihatlah siapa orang yang perkataannya kuhadirkan padamu. Salaf memberi nasehat kepada kita dengan untaian katanya di bawah ini:



فتفهم يا أخي ما أوصيك به إنما بصرك نعمة من الله عليك فلا تعصه بنعمه وعامله بغضه عن الحرام تربح واحذر أن تكون العقوبة سلب تلك النعمة وكل زمن الجهاد في الغض لخطة فإن فعلت نلت الخير الجزيل وسلمت من الشر الطويل


“Pahamilah wahai saudaraku apa yang aku pesankan kepadamu…

Penglihatanmu tidak lain adalah nikmat dari Allah atasmu…

Janganlah mendurhakai-Nya dengan menggunakan nikmat-Nya….

Perlakukanlah penglihatan tersebut dengan menahannya dari yang haram,

Maka kamu beruntung.

Jangan sampai engkau mendapat sangsi berupa hilangnya kenikmatan itu.

Waktu berjihad untuk menahan pandangan adalah sejenak.

Jika kau melakukannya, kau ‘kan dapatkan kebaikan yang banyak,

dan selamat dari keburukan yang panjang.”

[lihat ذم الهوى , karya أبو الفرج عبد الرحمن بن أبي الحسن الجوزي, hal. 143 ]



Akhi…
Sekali lagi, demi Allah, saya tidak melarangmu untuk berdakwah, termasuk dakwah kepada wanita. Sudah kuterangkan di atas bahwa Nabi pun berdakwah kepada wanita.

Namun, wahai akhi…
Antum memiliki kewajiban yang besar sebelum antum berdakwah, yaitu ilmu! Sudahkah kita berdakwah dengan ilmu? Akhi ini kutujukan pula untuk diriku: Manakah waktu yang lebih banyak kita habiskan? Mendakwahi wanita itu, atau waktu kita dalam mengikuti majelis ilmu? Silakan kita jawab sendiri.


Akhi…
Laki-laki memang tidak dilarang bahkan bisa diwajibkan mendakwahi wanita, sebagaimana yang Nabi dan para shahabat lakukan…

Namun, mendakwahi mereka tidak harus lewat facebook kan? Antum bisa membuat blog/webiste yang dari situ antum bisa menulis risalah. Antum bahkan bisa berbicara di alam nyata jika diperlukan, selama tidak ada khalwat. Namun, tidakkah kita ingat bahwa para shahabat menimba ilmu dari istri Nabi tidak berhadapan langsung, tetapi di balik tabir?

Jika ingin berdakwah, antum bisa menukilkan artikel bermanfaat, lalau kau cantumkan di facebookmu.. Antum juga bisa membuat page, atau grup yang dengannya kau bisa kirimkan artikel kepada kaum muslimin atau muslimah sehingga bisa membaca nasehatmu. Itu saja! Lalu kau log-out dari FB. Selesai kan? TANPA KITA HARUS MELIHAT-LIHAT LAWAN JENIS dan berbincang-bincang dengannya.

Akhi… di saat antum akan mendakwahi wanita, di saat itu pula antum harus menjaga diri antum untuk jauh.. menjauh sejauh-jauhnya dari pintu fitnah!

Tidak ingatkah akhi bahwa para shahabat ketika ingin menimba ilmu kepada para istri nabi, mereka lakukan di balik tabir? Di balik tabir akhi…! Bukan melihat wajah-wajah wanita yang kau add di facebookmu itu!


Akhi…
Jangan kau anggap ini kaku. Kalau akhi tidak percaya. Silakan periksa sendiri. Demi Allah, silakan periksa sendiri para akhwat teman-teman lama antum ketika di SLTP / SMU dulu, termasuk di kampusmu yang kau add di FB-mu.

Berapa di antara mereka yang menerima nasehatmu dalam praktik yang nyata?

Hingga para akhwat tersebut memakai hijabnya…
Menutupi wajahnya dari pandanganmu…
Meninggalkan maksiat-maksiat karena menrima nasehatmu..
Atau akhwat-akhwat itu hanya katakan,


* “Subhanallah akhi…,


* bagus sekali nasehatnya….,


* izin share ya….


* Saya di-tag dong…


* Kok ana tidak di-tag akhi…?


* Makasih ya bang telah di-tag…


* Jangan bosan-bosan nasehatin ana…”



Bah! Jangan terburu-buru kau biarkan hatimu berbunga-bunga dengan kata-kata di atas akhi, karena

و خلق الإنسان ضعيفا

“Manusia itu diciptakan dalam keadaan lemah”

(Q.S. An-Nisa’: 28)

maka ingatlah bahwa jika akhwat itu bisa berkata-kata lembut kepadamu, padahal dia bukan istrimu, tentu dia pun akan bersikap demikian pada laki-laki lain, selain dirimu!

أفق يا فؤادي من غرامك واستمع … مقالة محزون عليك شفيق

علقت فتاة قلبها متعلق … بغيرك فاستوثقت غير وثيق


Sadarlah wahai hati dari kasmaranmu, dan dengarkan!

Ucapan kesedihan dan kasihan kepadamu…

Kamu terpikat dengan gadis yang hatinya terpikat dengan selainmu!



Akhi….
Sebelum kau terpukau dengan gaya bahasa para akhwat itu, ingatlah bahwa Nabi memberikan peringatan kepada kita

ما تركت بعدي فتنة أضر على الرجال من النساء

”Aku tidak meninggalkan sepeninggalku suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki ketimbang wanita” [ H.R Bukhari dan Muslim ]

.

Akhi…
Apakah kau tidak merasakan kesedihan sebagaimana yang kurasakan? Akhi… Bagaimana mata ini tidak mengalir di saat kita baca pesan istri Nabi, Aisyah, berkata,

لو أن رسول الله صلى الله عليه وسلم رأى ما أحدث النساء اليوم لنهاهن عن الخروج أو حرم عليهن الخروج

“Seandainya Rasulullah melihat apa yang diperbuat kaum wanita pada hari ini, niscaya beliau melarang mereka keluar rumah atau mengharamkan mereka keluar rumah”

[lihat beserta sanadnya di ذم الهوى , karya أبو الفرج عبد الرحمن بن أبي الحسن الجوزي, hal. 154][1]

Ya.. Allah, ‘afallahu ‘anhunna…


Akhi… Kapan Aisyah (radhiyallahu ‘anha) mengatakan demikian? Kapan…? Kapan…? Lebih dari seribu tahun yang lalu, akhi, di saat Islam masih di puncak kejayaannya, di saat para shahabat yang menerima langsung pengajaran nabi masih hidup.


Duhai Ibunda, Aisyah….

Kau katakan demikian…

di kala Nabi belum lama wafat meninggalkan dirimu…

di kala para shahabat terbaik masih hidup di antaramu..

Kau katakan demikian…

di kala para wanita masih tutupi dirinya dengan hijab kemuliaan

Aku tahu tak tahu apa yang ‘kan kau katakan…

Jika kau hidup di masa kami…

Di saat kami tenggelam dalam kotornya dunia…

Di saat manusia menghiasi dirinya dengan tipisnya rasa malu…

Di saat kaum wanita ceburkan dirinya dalam alam tabu…



Maka, demikian pula Engkau wahai saudariku muslimah! Jikalau tulisan ini sampai kepadamu, mengapa tidak kau katakan kepada kami, para laki-laki, suatu ucapan yang kami justru bangga mendengarnya:

إليك عني! إليك عني! … فلست منك و لست مني

Menjauhlah kau dariku…! Menjauhlah kau dariku…!

Karna aku bukan milikmu…

Dan kau pun bukan bagian dari ku…


Ya ukhti…
Mengapa mau add, atau kau terima permintaan pertemanan facebook dengan para laki-laki, sementara ia bukan milikmu?

Belumkah kau ketahui tahu bahwa

إن الرجال الناظرين إلى النساء

مثل السباع تطوف باللحمان

إن لم تصن تلك اللحوم أسودها

أكلت بلا عوض و لا أثمان


Laki-laki ketika melihat wanita…

Seperti bintang buas ketika melihat daging…

Jika daging-daging itu tidak disimpan dengan rapi…

Ia ‘kan dibabat tanpa konpensasi apapun dan tanpa harga…



Ya ukhti…
Belumkah sampai kepadamu pesan Nabi kita?

يا معشر النساء تصدقن وأكثرن الاستغفار فإني رأيتكن أكثر أهل النار

“Wahai kaum wanita, bersedekahlah kalian dan perbanyaklah istighfar! Sesungguhnya aku melihat kalian sebagai penghuni mayoritas di neraka.

(H.R. Muslim: 132)

Wahai ukhti…
Tidakkah kau ingat bahwa kau pun diperintah untuk menahan pandanganmu?

وقل للمؤمنات يغضضن من أبصارهن ويحفظن فروجهن ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها وليضربن بخمرهن على جيوبهن

“Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka! Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka! Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka!”

(Q.S. An-Nuur: 31)

----------------—bersambung—----------------


Penyusun : Abu Muhammad Al-Ashri
Muraja’ah dan koreksi ulang: Ustadz Abu Ukasyah Aris Munandar

sekian copy paste
ambillah yang jernih buang yang keruh
aku tidak bersetuju dengan semua tulisan
tapi itu tak bermakna aku menolak semua nukilan
sebaliknya aku menyetujui kebanyakan dari nukilan ini
dan hanya sedikit yang aku kurang setuju

salah silap sila tegur
walLahu a'lam

sekolah tarbiyyah ini

bismilLahirRahmanirRahim

aku melihat alam
oh,sungguh indah
melihat jamaah penuh di masjid
masyaAllah, adakah ini berkat ramadhan?!
namun terkedu tatkala melihat sekumpulan anak2
yang usianya pada aku mungkin usia remaja
tidak kukisahkan siapa dia
namun aku sedih melihat bagaimana mereka bersama anak2 yang lebih kecil
bagaimana mereka menunaikan solat
bagaimana akan wujud pengganti rijal dakwah
jika jamaah sendiri runtuh?!

sebelum ini aku sedih kerana jamaah kosong
aku sedih kerana insan2 terdekat juga tidak bersama kemasjid
aku sedih kerana tidak dapat mempengaruhi mereka untuk ke masjid
kali ini aku sedih melihat remaja2 yang solatnya hanya untuk main2
jika lalai dalam solat pun dicemuh Allah azza wa jalla
kira2 apakah balasan bagi yang mempermainkan solat?

ketandusan ilmu?
mungkin
namun aku bimbang, jika solat begitu
bagaimana pula dengan yang lain
bagaimana kita menilai puasa kita?
adakah sekadar melambai dan melafaz
marhaban ya ramadhan
ahlan ya ramadhan
kemudian senyap membisu dari pengisian yang digemburkan
cukupkah?
moga aku tidak selemah itu
moga aku lebih kuat dari sangkaanku sndiri
moga Allah kuatkan diri ini
walau tidak banyak namun
pada aku cukuplah jika kualiti amal dapat diperbaiki
dan kuantiti dapat ditambah sedikit sahaja
moga2 setelah tamat sekolah tarbiyyah ini kita mendapat sesuatu
bukan sekadar lapar dan dahaga

ya Allah aku takut, aku bimbang, aku gelisah
bila memikirkan ajal yang datang mendadak
bila memikirkan celakanya orang2 yang tidak mendapatkan ampunan di bulan ramadhan
di mana akan kuhadapkan wajah ini jika aku
ya aku, seorang yang mahu menjadi salah seorang dari barisan itu
barisan da'ie, rijal dakwah, pejuang
namun rebah di medan nafsu, tewas kepada diri sendiri
na'uzubilLah

ayuh kita berjuang bersama!!
sungguh ramadhan dan puasa adalah sekolah tarbiyyah yang hebat
mengajar kita indahnya berbagi, indahnya bertaqarrub, indahnya berjamaah, indahnya tilawah dan tadarrus dan pelbagai lagi
Allahu Allah
sungguh tanpa taufiq dan hidayah-Mu takkan kugapai semua keindahan dan kelazatan itu

ayuh sahabat2ku, kita teruskan perjuangan!!
penilaian bagaimana solat dan puasa kita membentuk kita
dapat kita lihat melalui kesannya terhadap hidup kita
apakah ia menambahbaik diri kita, tidak mengubah atau kita makin jauh dari kebaikan?
nilailah diri dan amalan kita..

p/s: cinta adalah sesuatu yang indah namun boleh jadi menakutkan jika salah memandangnya!!

salah silap saya sila betulkan
walLahu a'lam