Jun 26, 2013

Jauhi memandai-mandai

bismilLahirRahmanirRahim

Makin lama makin takut dengan dunia hari ini kerana makin ramai terjangkit virus "ulama jadi2an"

Kenapa aku cakap macam tu?
Sebab orang awam yang tak tahu kaedah usul fiqh, tak tahu kaedah bahasa arab, tak tahu kaedah mantiq, tak tahu fiqh dan kaedah2nya, tak tahu hadis dan ilmu2nya, tak tahu isi kandungan al-Qur'an selayaknya namun berbicara seolah tahu semuanya terutamanya terhadap golongan yang tidak sealiran atau tidak sependapat dengannya.
Mereka mengatakan hadis ini sahih, hadis ini tidak sahih dll tanpa menyatakan dari mana kata2 itu dinukilkan atau dinaqalkan. Dan mereka juga tidak mengetahui jalur2 lain riwayat tersebut, juga tidak mengetahui syuhud hadis2 tersebut, juga tidak mengetahui ilmu riwayah, dirayah, rijal2 hadis, thabaqat2 hadis dll. Ilmu sanad hilang sedangkan AbdulLah ibnu Mubarak dengan tegas menyatakan mengenai kepentingan sanad,
“Sanad itu bagian dari agama. Kalaulah tidak ada sanad, orang akan sesukanya mengatakan apa saja yang dia inginkan.” (Diriwayatkan Muslim dalam Muqaddimah Shahih-nya, 1/15)
 begitu pula Ibnu Sirrin dengan tegas menyatakan pentingnya memperhatikan kesahihan sesuatu hadis
"Ilmu ini (hadis ini), adalah agama, karena itu telitilah orang-orang yang kamu mengambil agamamu dari mereka,"

Namun walaupun ada antara periwayat hadis yang dikatakan majhul, matruk dll oleh ulama jarh wa ta'dil, itu adalah semata2 demi menjaga keaslian hadis2 rasululLah sallalLahu 'alaihi wa sallam, tidak bermakna perawi2 itu seluruh hidupnya berdusta atau berkata buruk atau tidak berakhlaq mulia dll kerana begitu ketatnya kaedah penilaian hadis hingga satu kelemahan kecil pun sudah dianggap berbahaya dan besar di kalangan ulama hadis, ini berbeza dengan pengkajian sejarah dan lain sebagainya yang mana sifat periwayat2 tersebut tidak begitu penting kerana ia tidak mempengaruhi iman, tidak menggoncangkan agama kita. Kata2 indah dari Yahya bin Muaz yang kurang lebih maksudnya adalah kita mengatakan seorang ulama hadis ini kaza wakaza namun dia sebenarnya telah mendahului kita dalam amal dan syurga. MasyaAllah begitu tawadhu'nya beliau terhadap para ulama. Kita generasi hari ini? tahu menuduh dan memandang serong tanpa memahami selok belok agama dan berpendirian dalam berbeza. Kita tidak memahami sanad hadis tapi berani2 mengatakan ulama ini silap dalam meriwayat hadis, ulama ini jahil terhadap perawi ini dll. MasyaAllah "hebat"nya ilmu hadis kita!!

Ramai antara kita yang tidak tahu bahasa arab, tidak pernah bertalaqqi, tidak pernah membaca sendiri kitab2 arab, dengan seenaknya mengatakan ustaz ini berkata benar, ustaz ini berdusta, ulama ini begitu dan ulama itu begini dan lain sebagainya sedangkan taraf kita bukan di situ untuk berkata begitu
Agama ini berdiri atas kaedah2 dan hujah2 yang jelas, namun dijadikan keliru oleh golongan2 yang tidak memahaminya

Bayangkan, jika ada orang yang tidak mengetahui langsung ilmu perubatan, lantas mengatakan doktor itu salah kerana pengubatannya memberi kesan sampingan begitu dan begini sedangkan dia tidak tahu kesan sampingan itu adalah kesan sampingan yang umum, bukan yang jarang2 terjadi. Kita pasti mengatakan orang itu tidak tahu dan merasa terkilan kerana ilmu yang dipelajari selama ini telah di"nodai" oleh orang2 yang tidak mengetahui bidang ilmu tersebut.
Begitu pula lah ilmu2 agama. Belajar dan berguru tidak, tiba2 berkata seenaknya tanpa menyatakan dari mana kata2 itu dinukil, tanpa tahu bagaimana berinteraksi dengan kaedah2 tersebut, tanpa tahu bagaimana berinteraksi atau memahami dalil2 dan hujah2 para ulama. Belum mengerti sudah menjatuhkan? Patutlah Imam Shafie radhialLah 'anhu menyatakan dia akan kalah berdebat dengan seorang yang jahil yang tidak memahami landasan ilmu, kerana ia berkata seenaknya tanpa memahami dalil2nya dan kaedah2nya, yang akhirnya buat pening si alim yang ingin menjawab persoalan2 tidak masuk akal dari penanya lantaran kejahilannya.

Cukuplah, cukuplah menuduh dan lain sebagainya dalam kapasiti kita sebagai orang awam. Bukan penuntut ilmu pun di mata para ulama kerana penuntut ilmu itu ada ciri2 dan sifat2nya. Kita hanya sekadar pembaca dan pendengar serta pencinta ilmu. Belum lagi tahap memahami kaedah2 mereka memahami dalil2 dan hujah2 nas.

Siapa kita untuk mengatakan ustaz ini sesat, bid'ah dll. Siapa kita untuk mengatakan ulama ini begitu dan begini? Jika sesama ulama mengatakan sesama mereka begitu begini, itu atas dasar ilmu mereka dan mereka bertanggungjawab atas perkataan mereka. Kita berkata atas dasar apa? ikut2an? kemudian siapa yang akan bertanggungjawab terhadap perkataan kita? Bukankah kita sendiri? Beranikah kita mempertanggungjawab perkataan2 kita itu di depan Allah nanti tanpa terlebih dahulu bertemu mata dengan yang kita tuduh dan memahami dalil2 dan hujah2nya? Hentikan diri dari mengikuti perkara yang kita tidak mempunyai pengetahuan mengenainya. Orang2 tua berkata, bila sesama orang tua berbual, kanak2 jangan menyampuk. Begitulah adab kita dengan para ulama dan asatizah. Mahu menegur pun biarlah dengan adab, bukan dengan ikut suka sahaja.

Akhir kalam, beberapa ingatan penting dari al-Qur'an dan hadis (saya copas dari internet, dan al-Qur'an serta hadis itu dapat diambil pelajaran dari sisi zahirnya, namun bukan bidang saya untuk berkata mengenai hukum, mengenai kadar larangan, mengenai tafsir ayat2 dll)
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia berkata yang baik atau hendaklah diam.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah).

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaidullah telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa'd dari ayahnya dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Abu Hurairah -lewat jalur periwayatan lain- Ibrahim mengatakan, dan telah menceritakan kepada kami Shalih bin Kisan dari Ibnu Syihab dari Sa'id bin Musayyab dari Abu Hurairah menuturkan; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Akan terjadi fitnah, ketika itu yang duduk lebih baik daripada yang berdiri, yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, yang berjalan lebih baik daripada yang berlari, barangsiapa berusaha menghadapi fitnah itu, justru fitnah itu akan mempengaruhinya, maka barangsiapa mendapat tempat berlindung atau base camp pertahanan, hendaklah ia berlindung diri di tempat itu." (HR Bukhari)

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari persangkaan (zhan) karena sesungguhnya sebagian dari persangkaan itu merupakan dosa. ” (Al-Hujurat: 12)

“Hati-hati kalian dari persangkaan yang buruk (zhan) karena zhan itu adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian mendengarkan ucapan orang lain dalam keadaan mereka tidak suka. Janganlah kalian mencari-cari aurat/cacat/cela orang lain. Jangan kalian berlomba-lomba untuk menguasai sesuatu. Janganlah kalian saling hasad, saling benci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang Dia perintahkan. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, maka janganlah ia menzalimi saudaranya, jangan pula tidak memberikan pertolongan/bantuan kepada saudaranya dan jangan merendahkannya. Takwa itu di sini, takwa itu di sini. ” Beliau mengisyaratkan (menunjuk) ke arah dadanya. “Cukuplah seseorang dari kejelekan bila ia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain, haram darahnya, kehormatan dan hartanya. Sesungguhnya Allah tidak melihat ke tubuh-tubuh kalian, tidak pula ke rupa kalian akan tetapi ia melihat ke hati-hati dan amalan kalian. ” (HR. ِAl-Bukhari no. 6066 dan Muslim no. 6482)
penjelasan  “Zhan yang diharamkan adalah zhan yang terus menetap pada diri seseorang, terus mendiami hatinya, bukan zhan yang sekadar terbetik di hati lalu hilang tanpa bersemayam di dalam hati. Karena zhan yang terakhir ini di luar kemampuan seseorang. Sebagaimana yang telah lewat dalam hadits bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memaafkan umat ini dari apa yang terlintas di hatinya selama ia tidak mengucapkannya atau ia bersengaja1. ” (Al-Minhaj, 16/335)

“Mengapa di waktu kalian mendengar berita bohong tersebut, orang-orang mukmin dan mukminah tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri dan mengapa mereka tidak berkata, ‘Ini adalah sebuah berita bohong yang nyata’. ” (An-Nur: 12)

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : “Bersabda Rasulullah saw, “Tahukah kamu apa itu ghibah? Mereka (para sahabat menjawab), “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Lalu beliau bersabda : “Kamu mengumpat saudaramu semua tidak kamu sukai”. Kemudia ada seorang dari sahabat yang bertanya : “Pernahkah tuan melihat”? “Bagaimana bila ada pada saudaraku itu memang ada yang tuan katakana itu” ? Jawab beliau : “Jika pada saudaramu itu terdapat sesuatu yang kamu katakana, maka itulah yang disebut “Ghibah”, dan jika tidak ada, maka itu namanya “Buhtan” yaitu dusta”.

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa sesuatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu “.

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmunya sesungguhnya pendengaran, pengelihatan, dan hati seluruhnya itu akan ditanya tentangnya” [al Isra:36]
Penjelasan: Qatadah mengatakan:
“Jangan kamu katakan bahwa kamu melihat sementara kamu tidak melihat, mendengar sementara kamu tidak mendengar, mengetahui sementara kamu tidak mengetahui karena Allah akan bertanya kepadamu tentang itu semua.”
Ibnu Katsir mengatakan:
“Kandungan tafsir yang mereka (para ulama) sebutkan adalah bahwa Allah MELARANG BERBICARA TANPA ILMU, BAHKAN HANYA SEKEDAR SANGKAAN (karena) yang (demikian) itu hanyalah (merupakan) perkiraan dan khayalan ”

Katakanlah (hai Muhammad): “Aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu (atas dakwahku), dan aku bukan termasuk orang yang mengada-ada.” (Shad: 86)
Penjelasan: Ibnu Mas’ud berkata:
“Barang siapa mengetahui sesuatu hendaklah ia berkata dengan pengetahuannya itu. Sedangkan yang tidak mengetahui hendaklah ia mengucapkan “Allahu A’lam (Allah lebih mengetahui)”. Karena, sesungguhnya Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya: Katakanlah (hai Muhammad): “Aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu (atas dakwahku), dan aku bukan termasuk orang-orang yang mengada-ada.”

Bertanyalah kepada Ahli Dzikir kalau kamu belum tahu (an-Nahl: 43)

dan banyak lagi ayat2 lainnya yang mengingatkan kita agar berhati2 dalam setiap tuturkata dan perbuatan yang melibatkan orang lain dan libatkan agama tercinta

ittaqulLah
salah silapku sila betulkan
walLahu a'lam

No comments: